Kamis, 01 Desember 2011

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN


1.     Batasan tentang Pendidikan
Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.
a.     Pendidikan sebagai Proses transformasi Budaya
Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.
b.     Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi
Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.
c.     Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara
Pendidikan sebagai penyiapan warganegara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.
d.     Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja
Pendidikan sebagai penyimpana tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.
e.     Definisi Pendidikan Menurut GBHN
GBHN 1988(BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan nasiaonal yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk memingkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
2.     Tujuan dan proses Pendidikan
a.     Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dazn merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.
b.  Proses pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal.


3.     Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)
PSH bertumpu pada keyakinan bahwa pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan, PSH merupakan sesuatu proses berkesinambungan yang berlangsung sepanjang hidup. Ide tentang PSH yang hampir tenggelam, yang dicetuskan 14 abad yang lalu, kemudian dibangkitkan kembali oleh comenius 3 abad yang lalu (di abad 16). Selanjutnya PSH didefenisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan. Pengorganisasian dan penstruktursn ini diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari usia yang paling muda sampai paling tua.(Cropley:67)
                   Berikut ini merupakan alasan-alasan mengapa PSH diperlukan:
a.     Rasional
b.     Alasan keadilan
c.     Alasan ekonomi
d.     Alasan faktor sosial yang berhubungan dengan perubahan peranan keluarga, remaja, dan emansipasi wanita dalam kaitannya dengan perkembangan iptek
e.     Alasan perkembangan iptek
f.      Alasan sifat pekerjaan
4.     Kemandirian dalam belajar
a.     Arti dan perinsip yang melandasi
Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong oleh kamauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari pembelajaran. Konsep kemandirian dalam belajar bertumpu pada perinsip bahwa individu yang belajar akan sampai kepada perolehan hasil belajar.
b.     ­Alasan yang menopang
Conny Semiawan, dan kawan-kawan (Conny S. 1988; 14-16) mengemukakan alasan sebagai berikut:
Ø      Perkembangan iptek berlangsung semakin pesat sehingga tidak mungkin lagi para pendidik(khususnya guru) mengajarkan semua konsep dan fakta kepada peserta didik.
Ø      Penemuan iptek tidak mutlak benar 100%, sifatnya relatif.
Ø      Para ahli psikologi umumnya sependapat, bahwa peserta didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkret dan wajar sesuai dengan situasi dan kondidi yang dihadapi dengan mengalami atau mempraktekannya sendiri.
Ø      Dalam proses pendidikan dan pembelajaran pengembangan konsep seyogyanya tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan penanaman nilai-nilai ke dalam diri peserta didik.
B.    UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN
Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu:
1.     Subjek yang dibimbing (peserta didik).
2.     Orang yang membimbing (pendidik)
3.     Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4.     Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
5.     Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
6.     Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
7.     Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)
Penjelasan:
1.     Peserta Didik
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya.
Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah:
a.     Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.
b.     Individu yang sedang berkembang.
c.     Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
d.     Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.  
2.     Orang yang membimbing (pendidik)
Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkunga yaitu lingkungankeluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masayarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan, dan masyarakat.
3.     Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi isi, metode, serta alat-alat pendidikan.
4.     Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
a.     Alat dan Metode
Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara khusus alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat pendidikan dibedakan atas alat yang preventif dan yang kuratif.
b.     Tempat Peristiwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan)
Lingkungan pendidikan biasanya disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
C.    PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM
1.     Pengertian Sistem
Beberapa definisi sitem menurut para ahli:
a.     Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh. (Tatang M. Amirin, 1992:10)
b.     Sistem meruapakan himpunan komponen yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan. (Tatang Amirin, 1992:10)
c.     Sistem  merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang terorganisasikan dan berkaitan sesuai rencana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. (Tatang Amirin, 1992:11)

2.     Komponen dan Saling Hubungan antara Komponen dalam Sistem Pendidikan.
Pendidikan sebagai sebuah sistem terdiri dari sejumlah komponen. Komponen tersebut antara lain: raw input (sistem baru), output(tamatan), instrumentalinput(guru, kurikulum), environmental input(budaya, kependudukan, politik dan keamanan).

3.     Hubungan Sistem Pendidikan dengan Sitem Lain dan Perubahan Kedudukan dari Sistem
Sistem pendidikan dapat dilihat dalam ruang lingkup makro. Sebagai subsistem, bidang ekonomi, pendidikan,dan politik masing-masing-masing sebagai sistem. Pendidikan formal, nonformal, dan informal merupakan subsistem dari  bidang pendidikan sebagai sistem dan seterusnya.

4.     Pemecahan masalah pendidikan secara sistematik.
a.     Cara memandang sistem
Perubahan cara memandang suatu status dari komponen menjadi sitem ataupunsebaliknya suatu sitem menjadi komponen dari sitem yang lebih besar, tidak lain daripada perubahan cara memandang ruang lingkup suatu sitem atau dengan kata lain ruang lingkup suatu permasalahan.
b.     Masalah berjenjang
Semua masalah tersebut satu sama lain saling berkaitan dalam hubungan sebab akibat, alternatif maslah, dan latar belakang masalah.
c.     Analisis sitem pendidikan
Penggunaan analisis sistem dalam pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dengan cara yang efesien dan efektif. Prinsip utama dari penggunaan analisis sistem ialah: bahwa kita dipersyaratkan untuk berpikir secra sistmatik, artinya harus memperhitungkan segenap komponen yang terlibat dalam maslah pendidikan yang akan dipecahkan.
d.     Saling  hubungan antarkomponen
Komponen-komponen yang baik menunjang terbentuknya suatu sistem yang baik. Tetapi komponen yang baik saja belum menjamin tercapainya tujuan sistem secara optimal, manakala komponen tersebut tidak berhibungan secra fungsional dengan komponen lain.
e.     ­Hubungan sitem dengan suprasistem
Dalam ruang lingkup besar terlihat pula sistem yang satu saling berhubungan dengan sistem yang lain. Hal ini wajar, oleh karena pada dasarnya setiap sistem itu hanya merupakan satu aspek dari kehidupan. Sdangkan segenap segi kehidupan itu kita butuhkan, sehingga semuanya memerlukan pembinaandan pengembangan.


5.     Keterkaitan antara pengajaran dan pendidikan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari persoalan pengajaran dan pendidikan adalah:
a.     pengajaran dan pendidikan dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Masing-masing saling mengisis.
b.     Pembedaan dilakukan hanya untuk kepentingan analisis agar masing-masing dapat dipahami lebih baik.
c.     Pendidikan modern lebih cenderung mengutamakan pendidikan, sebab pendidikan membentuk wadah, sedangkan pengajaran mengusahakan isinya. Wadah harus menetap meskipun isi bervariasi dan berubah.

6.     Pendidikan prajabatan (preservice education) dan pendidikan dalam jabatan (inservice education) sebagai sebuah sistem.
Pendidikan prajabatan berfungsi memberikan bekal secara formal kepada calon pekerja dalam bidang tertentu dalam periode waktu tertentu. Sedangkan pendidikan dalam jabatan bermaksud memberikan bekal tambahan kepada oramg-orang yang telah bekerja berupa penataran, kursus-kursus, dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan prajabatan hanya memberikan bekal dasar, sedangkan bekal praktis yang siap pakai diberikan oleh pendidikan dalam jabatan.

7.     Pendidikan formal, non-formal, dan informal sebagai sebuah sistem.
Pendidikan formal yang sering disebut pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pedidikan yang telah baku, misalnya SD,SMP,SMA, dan PT. Pendidikan nonformal lebih difokuskan pada pemberian keahlian atau skill guna terjun ke masyarakat. Pendidikan informal adalah suatu fase pendidikan yang berada di samping pendidikan formal dan nonformal.
­Dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal, nonformal, dan informal ketiganya hanya dapat dibedakan tetapi sulit dipisah-pisahkan karena keberhasilan pendidikan dalam arti terwujudnya keluaran pendidikan yang berupa sumberdaya manusia sangat bergantung kepada sejauh mana ketiga sub-sistem tersebut berperanan.

Kamis, 17 November 2011

3 HAL PEMICU KESUKSESAN

Apa kabar rekan-rekan blogger semua?...
Apakah anda sudah membaca postingan saya yang kemarin?...”Awal menuju sukses” kalau anda belum membaca bahkan belum berkunjung sama sekali silahkan klik disini untuk membuka halaman “Awal menuju sukses

Dalam posting kali ini saya akan sedikit mengungkap tentang 3 hal yang berperan sebagai pemicu kesuksesan,sebenarnya banyak sekali hal-hal yang dapat memicu kesuksesan bagi semua orang,mungkin puluhan bahkan ratusan…tapi saya kira yang paling kuat sebagai pemicu kesuksesan adalah 3 hal yang mungkin juga termasuk sebagai modal awalan menuju kesuksesan

1.Takut kemiskinan akan menimpanya

Ketika orang sudah merasa takut dengan datangnya kemiskinan maka dengan susah payah orang tersebut akan menghindar dari kemiskinan.
Siang hari bahkan sampai malam kerja keras,ada juga yang merantau rela meninggalkan tanah kelahiranya,meninggalkan istri dan anak tercinta karena hanya menginginkan hidupnya berubah menjadi lebih baik

Ketika orang selalu berusaha menghindar dari kemiskinan maka saya yakin kesuksesan akan datang menjemputnya mungkain anda bisa berfikir bagaimana bila orang sudah berada pada posisi sebaliknya.

2.Takut akan kebodohan yang menimpa

Setiap orang tidak ingin diriya/keturunanya menjadi orang yang bodoh bekerja keras memeras keringat membanting tulang mencari uang demi membiayai anak-anaknya karena takut akan kebodohan,bagi yang belum berkeluarga mereka selalu belajar dengan keadaan.

Hidup itu kejam,kalau kita tidak mau belajar,belajar dan belajar maka bersiap-siaplah menjadi sarapan mereka-mereka yang takut akan kebodohan
Tapi ketika orang sudah takut akan kebodohan dengan susah payah orang tersebut salalu menghindar dari kebodohan,orang tersebut akan menjadi cerdas,penuh ide/kaya akan gagasan diimbangi juga dengan pola fikir yang kreatif dan inofatif

Orang seperti inilah yang mempunyai modal awal untuk melangkah menuju kesuksesan

3.Takut akan hinaan dan cacian

Kalau orang sudah tidak prnah takut dan tidak pernah mau menghindar dari yang nomor 3 ini berarti orang tersebut sudah parah dan perlu dipertanyakan,kalaupun dia sukses karena mungkin menghalalkan segala cara dan kalaupun dia tidak sukses maka sudah sewajarnya

Bagaimana?.....
Sebagai orang yang ingin sukses apakah anda siap untuk menghindar dari 3 hal yang saya ungkapkan?....
Atau mungkin ada tambahan?...silahkan inggalkan komentar anda

Kamis, 10 November 2011

Pendayaan Sains dan Teknologi dalam Menghadapi Tantangan Dunia Global

[www.uinsgd.ac.id] REKTOR--Dewasa ini, tidak ada suatu kebijaksanan apapun yang dapat menyelesaikan masalah tanpa memperhatikan sains dan teknologi, apakah masalah ekonomi ataupun politik. Nasib manusia pada saat ini dipengaruhi oleh kemampuan manusia mengembangkan, menerapkan, mengendalikan dan menguasai sains dan teknologi.[1] Sejak masa revoluasi industry, teknologi berkembang secara eksponensial dan tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupan dan peradaban manusia modern. Teknologi bukan hasil sumber daya alam, melainkan hasil pemikiran, karya dan kreatifitas manusia.
Seminar yang digagas oleh Senat Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi bermuara pada satu pandangan bahwa sains didayagunakan untuk mensejahterakan manusia di tengah arus globalisasi dunia. [2] Kemajuan sains dan teknologi telah didorong kuat oleh perkembangan gabungan media, telekomunikasi dan komputer, sehingga dunia telah berubah menjadi “kecil” seperti suatu “desa global ”, dimana orang dengan cepat dapat mengetahui apa yang terjadi dibagian lainnya dari “desa” itu.[3]
Sesuai dengan ramalan Alfin Tofler bahwa zaman kini dan yang akan datang dunia berada pada “gelombang ketiga”, yaitu zaman komunikasi, maka peradaban manusia adalah perabadan Hitech (teknologi tinggi) yang menyebar luas dalam waktu yang singkat[4] Salah satu faktor determinan untuk menang dalam era globalisasi ini, pendayagunaan sains dan teknologi diyakini mutlak penting. Paradigma ini tidak saja dinyatakan oleh Sachs (1995), Toffler (1990), Reich (1991) dan Quinn (1992) untuk menyebut hanya empat orang saja, namun juga oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden SBY dalam kuliah umum di Universitas Indonesia (6 Agustus 2007) dan Universitas Airlangga (4 September 2007) menegaskan pentingnya sains dan teknologi (Iptek) dan upaya memicu perkembangannya, khususnya melalui riset. Bahkan lebih tegas lagi Presiden SBY menyatakan: Jika kita mampu membuat sendiri segala produk teknologi yang kita butuhkan, mengapa kita harus melakukan impor.
Oleh karena itulah, melalui kegiatan seminar ini, saya ingin memberikan beberapa catatan penting terkait dengan pendayagunaan sains dan teknologi dalam menghadapi tantangan dunia global. Namun sebelum pokok pembahasan tersebut diberikan, berikut ini dijelaskan terlebih dahulu tentang posisi kemampuan sains dan teknologi, daya saing bangsa dan kualitas perguruan tinggi. Sains dan teknologi global kemudian tantangan pendayagunaan sains dan teknologi serta diakhiri dengan penutup.
A. Posisi Kemampuan Sains dan Teknologi, Daya Saing Bangsa dan Kualitas Perguruan Tinggi.
1. Kontribusi negara-negara Islam terhadap Karya Ilmiah Dunia
Science Citation Index 2004 menunjukkan hasil risetnya bahwa sebanyak 46 negara Islam memberi kontribusi hanya 1,17 persen saja pada penerbitan karya ilmiah dunia. Angka ini lebih rendah bila dibandingkan dengan sumbangan India sebesar 1,66 persen dan Spanyol 1,48 persen. Selanjutnya sebanyak 20 negara Arab menyumbang hanya 0,55 persen dari total karya ilmiah dunia. Sedangkan Israel menyumbang 0,89 persen, Jerman 7,7 persen, Inggris 7,9 persen, Jepang 8,2 persen dan Amerika 30,8 persen.
Disamping itu, negara-negara Islam hanya mengalokasikan anggaran belanja sebanyak 0,45 persen saja dari GNP untuk pengembangan IPTEK. Sedangkan negara-negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menghabiskan dana sebanyak 2,30 persen dari GNP untuk keperluan yang sama. Ketersediaan SDM untuk mendukung kegiatan riset dan pengembangan di negara-negara Islam juga terbatas. Rata-rata negara Islam memiliki 8,8 ilmuwan, insinyur dan teknisi per 1000 penduduk, dibandingkan dengan negara-negara OECD yang memiliki 139,3 atau 40,7 di negara-negara maju di luar OECD.
Oleh karena itu, Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO, 2000) melaporkan, sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia. Mereka mendiami wilayah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan sebanyak 73% cadangan minyak dunia. Namun gabungan negara itu ternyata hanya memiliki GNP sebesar 1,016 miliar dolar AS. Sedangkan Perancis, negara yang hanya berpenduduk 57,6 juta jiwa dan mendiami wilayah hanya 0,552 juta kilometer persegi, memiliki GNP sebanyak 1,293 miliar dolar AS.
ISESCO juga melaporkan hasil risetnya bahwa negara-negara Islam hanya mengalokasikan anggaran belanja sebanyak 0,45 persen saja dari GNP untuk pengembangan IPTEK. Sedangkan negara-negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menghabiskan dana sebanyak 2,30 persen dari GNP untuk keperluan yang sama.
2. Daya Saing Bangsa
Dilihat dari segi daya saing manusia, bangsa kita tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti dalam tabel berikut ini:
C. Tantangan Pendayagunaan Sains dan Teknologi
Dari kemajuan-kemajuan sains tersebut memungkinkan akan menumbuhkan materialisme dan rasionalisme tanpa mengindahkan nilai-nilai agama bahkan bisa jadi akan menuhankan kemajuan sains diatas segala-galanya sebagai kekuatan hidup, sehingga hal itu mampu merubah pola kemasyarakatan, pola pikir dan gaya hidup manusia yang lebih konsumtif dan hedonistik. Apabila kehidupan manusia dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan tentang sains, maka pengetahuan tentang sains dari suatu bangsa akan dipengaruhi pula oleh sejauh mana pengetahuan masyarakat dari bangsa tersebut tentang sains yang pada gilirannya akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dari bangsa tersebut. Bahkan Bacon berpendapat “iptek harus digunakan untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi, iptek hanya berarti bila nampak dalam kekuasaan manusia; iptek manusia adalah kekuasaan manusia”.
Era global yang ditandai dengan perkembangan sains dan kecanggihan teknologi, persebaran informasi, interaksi ekonomi-bisnis, dan kebijakan politik internasional merupakan tantangan besar kemanusiaan saat ini.[9] Dengan teknologi komunikasi dan informasi dunia memang terasa menjadi sempit dan kecil. Tanpa keimanan, kecanggihan produk Iptek tersebut dapat mendorong manusia ke sikap sombong dan melupakan Tuhan. Tanpa pegangan iman pola kehidupan yang makin mengglobal ini akan mudah membawa orang-orang terombang-ambing, terlanda stress dan ketersaingan. Tetapi dengan keimanan orang akan tangguh menghadapinya karena proses tersebut dipamahi sebagai bagian dari sunnatullah yang tak mungkin dihindari.
Sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia, umat Islam harus mampu menggali dan mendayagunakan ajaran agamanya di dalam mendayagunakan sains dan teknologi untuk menjawab tantangan dunia global. Umat Islam harus memelopori dan membawa bangsa ini tampil di gelanggang percaturan dan persaingan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang beriman dan bertakwa. Ini sekaligus merupakan upaya konkrit untuk turut mengarahkan aliran arus globalisasi yang kian hari kian menggoda dan menantang.

10 Cara Mengatasi Masalah Malas

Ada seorang parent mengadu kepada Abg. Joe tentang sifat anaknya yang pemalas. Malas belajar, malas buat kerja sekolah, malas buat ulangkaji, bahkan nak solat pun malas. Sifat malas memang penyakit yang sangat kronik dan sukar diubati. Kalau adik-adik ada sifat ini, bermakna adik-adik mempunyai satu masalah yang serius. Tapi jangan risau kerana sifat malas ini boleh diatasi. Cuba lihat tips-tips yang Abg. Joe kongsikan di bawah ini:
  1. Amalkan doa mengelak diri dari malas
  2. Ingat sasaran dan matlamat diri anda
  3. Teknik 10 Minit Aje
  4. Banyak membaca bahan motivasi
  5. Susun dan mudahkan jadual anda
  6. Rehat dan tidur yang cukup
  7. Bersenam dan beriadah
  8. Berkawan dengan orang yang positif
  9. Amalkan teknik pernafasan
  10. Suarakan moto anda
Ada satu doa dalam Al Ma’thurat yang bertujuan untuk menghindarkan diri kita dari sifat lemah dan malas. Abg. Joe cuba search doa tersebut dalam Google tapi setakat ini belum terjumpa lagi. Kalau adik-adik ada terjumpa, kongsi-kongsikanlah di sini.
Sebenarnya adik-adik, apabila kita berdoa kepada Allah (S.W.T), itu menunjukkan bahawa kita memang bersungguh-sungguh untuk berubah. Doa dan kesungguhan itulah yang akhirnya akan menggerakkan seluruh tubuh badan kita untuk berubah menjadi rajin.
Contohnya jika adik-adik rasa malas ke sekolah di waktu pagi, adik-adik akan terfikir bahawa selepas solat subuh tadi adik-adik baru sahaja berdoa supaya terhindar dari sifat malas. Jadi secara automatik, adik-adik akan membuang segala perasaan malas adik-adik.

Memimpin itu Berat

Pemimpin adalah sosok yang memiliki karakter untuk dapat memimpin dirinya sendiri dan orang banyak. Amanah yang diemban seorang pemimpin adalah amanah yang paling besar dalam hidup ini.
Ya, itulah yang saya ingat ketika saya membereskan setumpuk buku-buku yang masih berserakan di kamar dan menemukan sebuah laporan LPJ organisasi waktu SMA kemarin.
Saat itu saya pernah menjadi ketua dari salah satu satuan organisasi di sekolah. Benar-benar gak nyangka saya bisa dipilih jadi ketua. Padahal awalnya gak pernah terpikir sampai ke sana, mengingat saya orangnya yang waktu itu cenderung pasif, pendiam dan gak banyak bicara. Tapi apa boleh buat, keputu

Kamis, 03 November 2011

jangan pernah takut menghadapi masalahKawan, dunia ini terkadang tidak adil. Ketika lo sudah berjalan sesuai arah, pasti ada aja halangan. Entah ringa

Kawan, dunia ini terkadang tidak adil. Ketika lo sudah berjalan sesuai arah, pasti ada aja halangan. Entah ringan atau berat. Mulai dari soal pacar selingkuh, nggak punya uang, kuliah lum selesai, cari pekerjaan dan banyak lagi. Jangan pernah takut menghadapi tantangan hidup ini guys. Jauhkan pikiran lo dari rasa takut, karena hal tersebut berakibat terhadap putusnya proses berpikir dan bertindak. Pada saat lo mendapat tantangan besar dan menuntut lo untuk bertindak, maka dengan bermodal keyakinan dalam diri lo, lawan dan hadapilah tantangan tersebut dengan penuh keberanian.

Kegembiraan dan kemenangan hanya bagi mereka yang memiliki keberanian dan keyakinan kuat. Jika pertama kali berproses lo sudah menyerah terhadap tantangan, menjadi sangat mungkin sekali terjadi “patahnya semangat” yang seharusnya menjadi sayap untuk membawa lo terbang dan terus berjuang melawan perasaan takut dan lain sebagainya. Maka dengan demikian, tumbuhlah sejuta kekuatan dan keberanian untuk terbuka dan mau melihat apa yang ada dihadapan lo bukan melarikan diri darinya.

Menjadi sangat penting diingat, didalam keyakinan tidak ada ketakutan dan keyakinan yang sempurna akan meleyapkan semua ketakutan. Jadilah pemberani dan terimalah segala tantangan demi hidup yang lebih hebat dan penuh dengan perjuangan

perjuangan tantangan hidup

Sebenarnya saya gak pernah punya bayangan akan bekerja di kota Jakarta. Karena, selama ini saya kuliah dan bekerja di Surabaya. Tetapi, pada suatu ketika saya mendapat email panggilan tes dari sebuah perusahaan IT di Jakarta. Pada saat itu terlintas dalam pikiran untuk memenuhi panggilan tersebut. Saya yakin bisa mendapatkan pekerjaannya.

Tentu, kedua orang tua saya sangat kaget. Karena, di Jakarta saya gak punya saudara dan mungkin orang tua sangat kuatir berhubung saya perempuan. Namun, akhirnya saya bisa meyakinkan kedua orang tua. Padahal dalam hati ada rasa kuatir juga. Apalagi saya gak punya bayangan sama sekali dengan kota yang akan saya hadapi nanti. Beruntung sekali, teman saya rumahnya dikostkan. Jadi begitu tiba di Jakarta, saya langsung menuju ke rumahnya.

Tetapi kenyataan tak seindah bayangan. Setelah saya dites (tertulis, wawancara) dan sempat training seminggu, ternyata perusahaan tersebut menyuruh saya menunggu 2 minggu untuk mengetahui apakah saya akan diterima bekerja atau tidak. Dan, alasan lainnya, posisi yang akan saya duduki adalah posisi cadangan, yang istilahnya belum begitu dibutuhkan.

Saat itu saya bingung sekali, karena saya sangat mengharapkan bisa kerja di tempat tersebut dan rasanya gak mungkin hidup di Jakarta menganggur. Akhirnya saya mencari lowongan kerja lewat job fair di internet dan di koran.

Ada satu hal yang membuat saya sempat patah semangat. Pada saat mau menitip lamaran pada teman yang bekerja di perusahaan BUMN, teman saya bilang kalau lamaran saya percuma dan pasti akan dbuang ke tempat sampah karena saya tidak punya saudara anggota dewan atau pejabat. Saya sempat hopeless dan cerita kepada ibu saya. Tetapi ibu menasehati, jangan pernah bergantung kepada orang lain. Bergantunglah hanya kepada Tuhan YME dan hatimu akan tenang.

Nasehat ibulah yang membuat saya tetap bertahan dan terus berjuang. Meskipun sampai 2 bulan lamanya saya masih menganggur. Tetapi dalam hati kecil saya yakin, pada suatu hari pasti akan mendapatkan pekerjaan. Dan dalam hati saya berjanji gak akan pernah menggantungkan diri ataupun terlalu mengharapkan bantuan orang lain. Saya minta doa kedua orang tua saya dan saya gak berhenti berdoa siang dan malam agar diberi jalan untuk mendapatkan pekerjaan.

Setelah 2 bulan berusaha melamar ke sana ke mari, akhirnya teman saya nawarin ikut jadi marketing credit card. Kita nawarin credit card secara door to door ke gedung-gedung perkantoran. Hasilnya? Saya kenyang mengalami penolakan dengan cara halus maupun kasar. Tapi saya mencoba bertahan, karena kesempatan yang ada memang hanya itu.

Baru sebulan saya jadi marketing credit card, ada tawaran dari sebuah perusahaan telekomunikasi untuk jadi pegawai kontrak 3 bulan. Tanpa berpikir panjang saya terima tawaran itu. Saat itu saya tidak memikirkan berapa gajinya. Yang penting saya bisa kerja.

Belum genap 2 bulan di perusahaan tersebut, datang tawaran dari sebuah bank asing. Dan yang fantastis, gaji yang ditawarkan 2 kali lipat dari gaji sebelumnya, padahal saya belum pernah mempunyai pengalaman di operasional perbankan. Tetapi saya yakin saya mampu melakukannya.

Setelah bekerja di bank tersebut selama 6 bulan saya merasa hidup saya datar-datar saja dan ingin tantangan baru. Maka saya kuliah lagi, ambil S2. Padahal jika dipikir secara logika saat itu status saya masih karyawan kontrak dan tidak ada kepastian apakah akan diperpanjang. Tetapi dengan bekal keyakinan diri, saya berani mengambil keputusan besar tersebut. Walaupun jauh dari mapan, tetapi saya yakin selama mau berjuang pasti akan ada jalan. Saya yakin akan mampu membiayai kuliah sampai lulus.

Ternyata sebelum kontrak kerja saya habis di bank asing tersebut saya bisa mendapatkan tawaran pekerjaan lagi di sebuah perusahaan vendor telekomunikasi, sekalipun statusnya juga karyawan kontrak. Teman-teman saya banyak yang menjuluki saya kutu loncat. Tetapi sebenarnya bukan seperti itu. Bagi saya, setiap ada peluang dan kesempatan kenapa kita tidak mengambilnya.

Saat ini saya masih bekerja di perusahaan telekomunikasi tersebut. Di sini masih banyak hal yang harus dipelajari. Saya ingin cari pengalaman sebanyak-banyaknya dari perusahaan-perusahaan yang pernah saya tempati. Karena, saya punya impian suatu hari nanti, minimal 5 tahun mendatang, saya mempunyai perusahaan outsourcing SDM sendiri. Kebetulan saya mengambil kuliah jurusan Manajemen SDM dan menurut saya bisnis outsourcing SDM ke depan gak ada matinya.

Yang selalu saya tanamkan dalam diri, jangan pernah menyerah apapun tantangan yang kita hadapi. Dan pergunakan peluang maupun kesempatan sebaik-baiknya. Serta, jangan pernah menggantungkan diri terhadap bantuan orang lain. Mungkin saat ini saya harus berpuas diri menjadi karyawan kontrak, tetapi saya yakin sesuai target minimal 5 tahun mendatang saya mempunyai perusahaan outsourcing yang bisa saja menjadi partner perusahaan yang sekarang saya tempati. Semoga.