[www.uinsgd.ac.id] REKTOR--Dewasa ini, tidak ada suatu kebijaksanan
apapun yang dapat menyelesaikan masalah tanpa memperhatikan sains dan
teknologi, apakah masalah ekonomi ataupun politik. Nasib manusia pada
saat ini dipengaruhi oleh kemampuan manusia mengembangkan, menerapkan,
mengendalikan dan menguasai sains dan teknologi.[1] Sejak masa
revoluasi industry, teknologi berkembang secara eksponensial dan tidak
dapat dipisahkan lagi dari kehidupan dan peradaban manusia modern.
Teknologi bukan hasil sumber daya alam, melainkan hasil pemikiran,
karya dan kreatifitas manusia.
Seminar yang digagas oleh Senat Mahasiswa Fakultas Sains dan
Teknologi bermuara pada satu pandangan bahwa sains didayagunakan untuk
mensejahterakan manusia di tengah arus globalisasi dunia. [2] Kemajuan
sains dan teknologi telah didorong kuat oleh perkembangan gabungan
media, telekomunikasi dan komputer, sehingga dunia telah berubah
menjadi “kecil” seperti suatu “desa global ”, dimana orang dengan cepat
dapat mengetahui apa yang terjadi dibagian lainnya dari “desa” itu.[3]
Sesuai dengan ramalan Alfin Tofler bahwa zaman kini dan yang akan
datang dunia berada pada “gelombang ketiga”, yaitu zaman komunikasi,
maka peradaban manusia adalah perabadan Hitech (teknologi tinggi) yang
menyebar luas dalam waktu yang singkat[4] Salah satu faktor determinan
untuk menang dalam era globalisasi ini, pendayagunaan sains dan
teknologi diyakini mutlak penting. Paradigma ini tidak saja dinyatakan
oleh Sachs (1995), Toffler (1990), Reich (1991) dan Quinn (1992) untuk
menyebut hanya empat orang saja, namun juga oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden SBY dalam kuliah umum di Universitas
Indonesia (6 Agustus 2007) dan Universitas Airlangga (4 September 2007)
menegaskan pentingnya sains dan teknologi (Iptek) dan upaya memicu
perkembangannya, khususnya melalui riset. Bahkan lebih tegas lagi
Presiden SBY menyatakan: Jika kita mampu membuat sendiri segala produk
teknologi yang kita butuhkan, mengapa kita harus melakukan impor.
Oleh karena itulah, melalui kegiatan seminar ini, saya ingin
memberikan beberapa catatan penting terkait dengan pendayagunaan sains
dan teknologi dalam menghadapi tantangan dunia global. Namun sebelum
pokok pembahasan tersebut diberikan, berikut ini dijelaskan terlebih
dahulu tentang posisi kemampuan sains dan teknologi, daya saing bangsa
dan kualitas perguruan tinggi. Sains dan teknologi global kemudian
tantangan pendayagunaan sains dan teknologi serta diakhiri dengan penutup.
A. Posisi Kemampuan Sains dan Teknologi, Daya Saing Bangsa dan Kualitas Perguruan Tinggi.
1. Kontribusi negara-negara Islam terhadap Karya Ilmiah Dunia
Science Citation Index 2004 menunjukkan hasil risetnya bahwa
sebanyak 46 negara Islam memberi kontribusi hanya 1,17 persen saja pada
penerbitan karya ilmiah dunia. Angka ini lebih rendah bila
dibandingkan dengan sumbangan India sebesar 1,66 persen dan Spanyol
1,48 persen. Selanjutnya sebanyak 20 negara Arab menyumbang hanya 0,55
persen dari total karya ilmiah dunia. Sedangkan Israel menyumbang 0,89
persen, Jerman 7,7 persen, Inggris 7,9 persen, Jepang 8,2 persen dan
Amerika 30,8 persen.
Disamping itu, negara-negara Islam hanya mengalokasikan anggaran
belanja sebanyak 0,45 persen saja dari GNP untuk pengembangan IPTEK.
Sedangkan negara-negara maju yang tergabung dalam Organization for
Economic Cooperation and Development (OECD) menghabiskan dana sebanyak
2,30 persen dari GNP untuk keperluan yang sama. Ketersediaan SDM untuk
mendukung kegiatan riset dan pengembangan di negara-negara Islam juga
terbatas. Rata-rata negara Islam memiliki 8,8 ilmuwan, insinyur dan
teknisi per 1000 penduduk, dibandingkan dengan negara-negara OECD yang
memiliki 139,3 atau 40,7 di negara-negara maju di luar OECD.
Oleh karena itu, Islamic Educational Scientific and Cultural
Organization (ISESCO, 2000) melaporkan, sebanyak 57 negara Islam yang
tergabung dalam OKI memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen
penduduk dunia. Mereka mendiami wilayah seluas 26,6 juta kilometer
persegi, dan menyimpan sebanyak 73% cadangan minyak dunia. Namun
gabungan negara itu ternyata hanya memiliki GNP sebesar 1,016 miliar
dolar AS. Sedangkan Perancis, negara yang hanya berpenduduk 57,6 juta
jiwa dan mendiami wilayah hanya 0,552 juta kilometer persegi, memiliki
GNP sebanyak 1,293 miliar dolar AS.
ISESCO juga melaporkan hasil risetnya bahwa negara-negara Islam
hanya mengalokasikan anggaran belanja sebanyak 0,45 persen saja dari
GNP untuk pengembangan IPTEK. Sedangkan negara-negara maju yang
tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development
(OECD) menghabiskan dana sebanyak 2,30 persen dari GNP untuk keperluan
yang sama.
2. Daya Saing Bangsa
Dilihat dari segi daya saing manusia, bangsa kita tergolong rendah
bila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti dalam tabel berikut
ini:
C. Tantangan Pendayagunaan Sains dan Teknologi
Dari kemajuan-kemajuan sains tersebut memungkinkan akan menumbuhkan
materialisme dan rasionalisme tanpa mengindahkan nilai-nilai agama
bahkan bisa jadi akan menuhankan kemajuan sains diatas segala-galanya
sebagai kekuatan hidup, sehingga hal itu mampu merubah pola
kemasyarakatan, pola pikir dan gaya hidup manusia yang lebih konsumtif
dan hedonistik. Apabila kehidupan manusia dipengaruhi oleh perkembangan
pengetahuan tentang sains, maka pengetahuan tentang sains dari suatu
bangsa akan dipengaruhi pula oleh sejauh mana pengetahuan masyarakat
dari bangsa tersebut tentang sains yang pada gilirannya akan
mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dari bangsa tersebut. Bahkan
Bacon berpendapat “iptek harus digunakan untuk memperkuat kemampuan
manusia di bumi, iptek hanya berarti bila nampak dalam kekuasaan
manusia; iptek manusia adalah kekuasaan manusia”.
Era global yang ditandai dengan perkembangan sains dan kecanggihan
teknologi, persebaran informasi, interaksi ekonomi-bisnis, dan kebijakan
politik internasional merupakan tantangan besar kemanusiaan saat
ini.[9] Dengan teknologi komunikasi dan informasi dunia memang terasa
menjadi sempit dan kecil. Tanpa keimanan, kecanggihan produk Iptek
tersebut dapat mendorong manusia ke sikap sombong dan melupakan Tuhan.
Tanpa pegangan iman pola kehidupan yang makin mengglobal ini akan mudah
membawa orang-orang terombang-ambing, terlanda stress dan ketersaingan. Tetapi dengan keimanan orang akan tangguh menghadapinya karena proses tersebut dipamahi sebagai bagian dari sunnatullah yang tak mungkin dihindari.
Sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia, umat Islam harus mampu
menggali dan mendayagunakan ajaran agamanya di dalam mendayagunakan
sains dan teknologi untuk menjawab tantangan dunia global. Umat Islam
harus memelopori dan membawa bangsa ini tampil di gelanggang percaturan
dan persaingan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang
beriman dan bertakwa. Ini sekaligus merupakan upaya konkrit untuk
turut mengarahkan aliran arus globalisasi yang kian hari kian menggoda
dan menantang.
artikel lu banyak males bacanya gua :D
BalasHapus